Perlahan Ema membuka matanya, tampak sang mama sedang berada dihadapannya..
'Kamu kenapa? Badan kamu panas..tadi mama tlp kerumah ngga ada yg angkat,mama pikir km knapa..'
'Iy ma..td dianter bapak ksini'
Tampak sang mama panik, ia segera memanggil suster dari caller sang kakak yg jg ikut bingung melihat adiknya terkapar di sofa. Tak lama, suster pun tiba.
'Sus, ini anak saya panas, boleh minta obat turun panas dulu ngga yah..sambil nanti sy periksa kebawah'
'Baik,sebentar bu' jawab sang suster sambil bergegas keluar utk mengambil obat yg diminta.
Selang beberapa menit, suster pun kembali, ia menyerahkan obat tsb ke sang mama. Dgn cepat mama pun memberikan obat itu kepada Ema
'Cepet minum,abis itu tidur, nanti kalo udh mendingan kita langsung periksa lab kebawah..jangan" kamu tipes jg sama kyk kakak kamu'
'Iya..' Sahut ema lemah dan langsung kembali memejamkan matanya.
-------
4 jam kemudian
Tampak Ema terbangun dan mulai merasa risih dgn keringat diseluruh pakaian yang ia kenakan. Sang mama tak tampak disana, sang kakak pun terlihat tertidur. Tak ingin mengganggu, Ema pun melepas sweater yg ia kenakan, ia mengganti pakaiannya dgn pakaian ganti sang kakak di lemari
'Yaah seadanya lah.. ' Pikirnya
'Eeehh udah banguun..' Kejut sang mama dari luar sambil buka pintu
'Iya ma..mendingan..'
'Ya udh yuk periksa kebawah'
'Sekarang?'
'Iya..mama udh daftarin'
'Ngapain sii.. Org ema gapapa juga.. Org udh ga panas lagi'
'Mau diurus mama nggak?!' Ujar sang mama kesal
'Mau' nyali ema ciut
'Ya udah..' Seraya mengajak ema turun kebawah utk ikut tes laboratorium.. Ya.. Ema diminta untuk cek darah.. Sang mama sepertinya khawatir ia terkena tipes seperti sang kakak.
'Nanti kalo km kenapa2,biar cepet diurus, langsung masuk RS ini aja, biar ngga ribet ngurusnya..'
'Haahh..nggaa.. Ema gapapa kok,,ngapain masuk rumah sakit..'Pekiknya.. Ia memang belum pernah masuk rumah sakit sebelumnya..
'Ya kan kalo..udah diem dulu kamuu, tunggu aja hasilnya'
Cukup lama mereka menunggu, saat kembali kekamar, tubuh Ema pun kembali lemah. Ia harus bergandengan dgn sang mama. Untung saja tubuhnya yg kecil masih bisa ditopang dengan baik oleh mamanya. Setibanya dikamar, Ema kembali terkapar disofanya.
Setengah jam kemudian,suster datang membawa hasil laboratorium. Ema positif terkena Demam Berdarah, trombositnya sangat rendah, turun hingga seperempat batas normal. Ia harus segera dapat perawatan. Mencoba utk meminta kamar di RS yang sama ternyata penuh, membuat Ema harus dijemput oleh Bapak dan dibawa pulang kembali. Akhirnya ia mendapatkan kamar di RS kawasan Kampung Melayu Jakarta Timur. Hanya kamar VIP yg tertinggal. Tak ada teman, seorang diri.
Malam itu juga, Ema langsung dirawat di RS itu, kakaknya yg masih dirawat di RS lain, membuat Ema harus berada disana seorang diri. Benar-benar tak ada seorangpun yang menemani dirinya. Sesekali sang mama dan Bapak mengunjunginya, namun hanya sebentar krn harus kembali menunggu sang kakak yang saay itu kondisinya tak memungkinkan utk ditinggal pergi.
Ya.. Itulah hari-hari dimana Ema berada dalam kesendiriannya.. Ditemani televisi, suster jaga yang terkadang datang mengambil darah utk kontrol. Sesekali ada yang menjenguk, tapi memang tak lama, dan siang. Tiap malam, Ema sendiri.. Dan saat itulah ia mulai berpikir dan berbicara dengan otaknya sendiri. Bukan mungkin lebih tepatnya kepribadian ganda nya muncul..
Ema tampak melamun, ia mulai menikmati kesendiriannya.. Karena sesungguhnya ia tak benar-benar sendiri.. Pikirannya mulai bermain dan berbicara dengan angannya..
-------
To be continued
--
Powered by Telkomsel BlackBerry®
Thursday, August 23, 2012
Story: Ema #1
Kala itu.. Ema sedang tertidur..ia melepaskan segala kepenatan yg ada di kepalanya.. Ia mencoba menerawang keatas.. Apa yg harus ia cari.. Apa yg harus ia raih..
Ia khawatir.. Ia gundah.. Ia merasa sendiri..
Seperti sendirinya ia saat itu.. Ya.. Ia memang sendiri.. Berbaring tanpa seorangpun yang menemani selama 3 hari lebih ia berada di Rumah Sakit.. Ema.. ia seorang gadis kecil.. Usianya masih belasan.. Ia masih duduk dikelas 2 SMP.. Entah darimana ia dapatkan virus DBD yg sempat mengancam jiwanya.. Trombositnya turun drastis dibawah angka normal.. Beruntung saat itu ia langsung ditangani pihak rumah sakit.
'Ma.. Kamu ngga sekolah? Udah siang ini..'
'Nggak ah pak.. Badan ema kyknya ngga enak..'
'Kamu sakit?' Tangan sang Bapak pun meraih dahi sang anak, tersadar anaknya dlm kondisi tdk baik, ia pun berkata
'Ya udh..kamu bpk anter ke mamah aja yah..'
Kebetulan sang Ibu sedanhg berada di Rumah Sakit untuk menemani Kakak Ema yg kala itu juga sudah lebih dahulu dirawat karena Tipes dan DBD.
Pagi itu sang Bapak pun mengantar Adik Ema kesekolahnya dikawasan Salemba, kemudian mobil pun beralih ke Rumah Sakit dikawasan Pulomas. Ada keraguan sang Bapak membiarkan Ema jalan sendiri menuju kamar rawat sang Kakak,namun sepertinya Ema bersikeras utk tak diantar apalagi melihat waktu yg semakin siang, ya.. Ema memang tak pernah mau membuat repot orang lain,bahkan saat itu ia tak ingin membuat Bapaknya repot memarkir mobil dan mengantarnya keatas.. Toh pikirnya,, masih ada lift.. Dan toh dirinya juga masih sehat bugar..
'Kamu bisa naek sendiri?'
'Bisa pak..'
'Bener gapapa..'
'Gapapa.. Ema bisa sendiri kok..kan dr kmaren juga sendiri'
'Badan kamu ngga lemes?'
'Ngga..'
Pintu mobil pun dibuka, Ema pagi itu mengenakan celana jeans favoritnya, dipadu dengan sweater putih Mickey Mouse favorit pemberian Bapaknya saat pulang dari Disneyland beberapa tahun lalu. Selepas Ema menutup pintu mobil, tampak keraguan sang Bapak utk meninggalkan Ema sendiri, namun Ema meyakinkannya dgn melambaikan tangan sebagai tanda bhw ia baik-baik saja, dan benar mobil pun melaju pergi.
Ternyata Ema baru menyadari, bahwa dirinya tidak baik-baik saja saat ia mulai beranjak dari tempatnya. Tubuhnya terasa lemas, matanya mulai kunang-kunang. Ia sendiri tidak tahu apa yang terjadi padanya,bukankah ia hanya demam biasa saja?
Secepat mungkin ia menaiki tangga lobi dan menuju lift terdekat. Tak lagi ia sapa dgn senyum para resepsionis dan petugas keamanan seperti yg biasa ia lakukan saat menjenguk kakaknya di RS ini, ya.. Ia hanya berupaya secepat mungkin menuju kamar sang kakak. Didepan lift terlihat peluh keringat mulai membasahi dahi dan pelipis Ema, ia mulai keringat dingin, pandangan mulai kabur dan beruntung lift terbuka disaat yg tepat. Bersama dengan 2 orang lainnya, Ema masuk kedalam lift dan menekan tombol angka 5 untuk menuju lantai dirawatnya sang kakak. Fokus Ema hanya berjumpa sang mama dan segera memberitahu keadaann tubuhnya yang sangat lemah. Didalam lift, ia bersandar sambil menunggu kotak besi itu beranjak naik, dan..
'Tiing..' Seketika lift membuka.
Ema segera berjalan sekuat tenaga menuju kamar 513. Pintu pemisah menuju kamar rawatpun tak lagi ia raih, badannya sudah benar-benar ambruk. Ema hanya menabrak pintu pemisah dggn tubuhnya hingga terbuka,sambil matanya mencari angka 513
'511.. 513.. Yak ini dia,,' pikirnya
Dengan langkah gontai ia memastikan bhw ibunya yg benar berada didalam. Saat melihat sang mama, Ema pun masuk dan menuju sofa tempat tidur disamping ranjang sang kakak.. Dan
'Bruk..' Ema menjatuhkan tubuhnya ke sofa tersebut, tubuhnya sudah tak punya daya lagi...
--------
To be continued
--
Powered by Telkomsel BlackBerry®
Ia khawatir.. Ia gundah.. Ia merasa sendiri..
Seperti sendirinya ia saat itu.. Ya.. Ia memang sendiri.. Berbaring tanpa seorangpun yang menemani selama 3 hari lebih ia berada di Rumah Sakit.. Ema.. ia seorang gadis kecil.. Usianya masih belasan.. Ia masih duduk dikelas 2 SMP.. Entah darimana ia dapatkan virus DBD yg sempat mengancam jiwanya.. Trombositnya turun drastis dibawah angka normal.. Beruntung saat itu ia langsung ditangani pihak rumah sakit.
'Ma.. Kamu ngga sekolah? Udah siang ini..'
'Nggak ah pak.. Badan ema kyknya ngga enak..'
'Kamu sakit?' Tangan sang Bapak pun meraih dahi sang anak, tersadar anaknya dlm kondisi tdk baik, ia pun berkata
'Ya udh..kamu bpk anter ke mamah aja yah..'
Kebetulan sang Ibu sedanhg berada di Rumah Sakit untuk menemani Kakak Ema yg kala itu juga sudah lebih dahulu dirawat karena Tipes dan DBD.
Pagi itu sang Bapak pun mengantar Adik Ema kesekolahnya dikawasan Salemba, kemudian mobil pun beralih ke Rumah Sakit dikawasan Pulomas. Ada keraguan sang Bapak membiarkan Ema jalan sendiri menuju kamar rawat sang Kakak,namun sepertinya Ema bersikeras utk tak diantar apalagi melihat waktu yg semakin siang, ya.. Ema memang tak pernah mau membuat repot orang lain,bahkan saat itu ia tak ingin membuat Bapaknya repot memarkir mobil dan mengantarnya keatas.. Toh pikirnya,, masih ada lift.. Dan toh dirinya juga masih sehat bugar..
'Kamu bisa naek sendiri?'
'Bisa pak..'
'Bener gapapa..'
'Gapapa.. Ema bisa sendiri kok..kan dr kmaren juga sendiri'
'Badan kamu ngga lemes?'
'Ngga..'
Pintu mobil pun dibuka, Ema pagi itu mengenakan celana jeans favoritnya, dipadu dengan sweater putih Mickey Mouse favorit pemberian Bapaknya saat pulang dari Disneyland beberapa tahun lalu. Selepas Ema menutup pintu mobil, tampak keraguan sang Bapak utk meninggalkan Ema sendiri, namun Ema meyakinkannya dgn melambaikan tangan sebagai tanda bhw ia baik-baik saja, dan benar mobil pun melaju pergi.
Ternyata Ema baru menyadari, bahwa dirinya tidak baik-baik saja saat ia mulai beranjak dari tempatnya. Tubuhnya terasa lemas, matanya mulai kunang-kunang. Ia sendiri tidak tahu apa yang terjadi padanya,bukankah ia hanya demam biasa saja?
Secepat mungkin ia menaiki tangga lobi dan menuju lift terdekat. Tak lagi ia sapa dgn senyum para resepsionis dan petugas keamanan seperti yg biasa ia lakukan saat menjenguk kakaknya di RS ini, ya.. Ia hanya berupaya secepat mungkin menuju kamar sang kakak. Didepan lift terlihat peluh keringat mulai membasahi dahi dan pelipis Ema, ia mulai keringat dingin, pandangan mulai kabur dan beruntung lift terbuka disaat yg tepat. Bersama dengan 2 orang lainnya, Ema masuk kedalam lift dan menekan tombol angka 5 untuk menuju lantai dirawatnya sang kakak. Fokus Ema hanya berjumpa sang mama dan segera memberitahu keadaann tubuhnya yang sangat lemah. Didalam lift, ia bersandar sambil menunggu kotak besi itu beranjak naik, dan..
'Tiing..' Seketika lift membuka.
Ema segera berjalan sekuat tenaga menuju kamar 513. Pintu pemisah menuju kamar rawatpun tak lagi ia raih, badannya sudah benar-benar ambruk. Ema hanya menabrak pintu pemisah dggn tubuhnya hingga terbuka,sambil matanya mencari angka 513
'511.. 513.. Yak ini dia,,' pikirnya
Dengan langkah gontai ia memastikan bhw ibunya yg benar berada didalam. Saat melihat sang mama, Ema pun masuk dan menuju sofa tempat tidur disamping ranjang sang kakak.. Dan
'Bruk..' Ema menjatuhkan tubuhnya ke sofa tersebut, tubuhnya sudah tak punya daya lagi...
--------
To be continued
--
Powered by Telkomsel BlackBerry®
Wednesday, August 8, 2012
Rendang KOKOCI - Solusi Makanan Praktis :D
Rendang KOKOCI,,
Bulan puasa gini harus sahur,, belum tentu semua suka masak,, kadang bukan cuma ngga suka,, bisa aja ngga,, ehehehe,, tenaang,, sekarang banyak kok lauk" siap saji yang bisa langsung santap,, tinggal jalan kedepan dan beli di warteg,, atau beli dulu lauk malem"..masukin kulkas,, dan sahur tingga dipanasin,,
tapi gimanaa kalo tempat kita tinggal jauh dari peradaban,, alias sepii kayak kuburan,, jangankan jajanan,, tetangga aja jarang-jarang,,
tarraaa,,,,
tenaang yaahh,, KOKOCI punya solusi rendang kering yang praktis,, siap saji,, ngga perlu dipanasin,, ngga perlu diolah lagi,, tinggal santap,, tanpa bahan pengawet loh,,
Rendang KOKOCI menawarkan beberapa varian rendang kering yang diolah dari bahan dan dengan cara yang alami. tanpa bahan pengawet, KOKOCI adalah Rendang kering yang asli dikirim dari 50 Koto - Payakumbuh - Sumatera Barat
Varian:
1. Rendang Paru Rp 45.000/bungkus
2. Rendang Runtiah/Daging Rp 45.000/bungkus
3. Rendang Telur Rp 20.000/bungkus
4. Rendang Ubi Maco (Singkong & Teri) Rp 20.000/bungkus
5. Ganepo Renyah (singkong bumbu gurih) Rp 10.000/bungkus
kemasan: nett 200gr
Contact:
Twitter: @rendangKOKOCI
BB: 211EA174 / 2943437E
whatsapp:
Sunday, July 29, 2012
#singalong Berhenti Berharap
Aku tak percaya lagi
Dengan apa yang kau beri
Aku terdampar disini
Tersudut menunggu mati
Aku tak percaya lagi
Akan guna matahari
Yang dulu mampu terangi
Sudut gelap hati ini
Aku berhenti berharap
Dan menunggu datang gelap
Sampe nanti suatu saat
Tak ada cinta kudapat
Kenapa ada derita
Bila bahagia tercipta
Kenapa ada sang hitam
Bila putih menyenangkan
ha… ha…
Reff :
Aku pulang….
Tanpa dendam….
Ku terima… kekalahanku…
Aku pulang…
Tanpa dendam…
Kusalut kan .. kemenanganmu…
wow..
Kau ajarkan aku bahagia
Kau ajarkan aku derita
Kau tunjukkan aku bahagia
Kau tunjukkan aku derita
Kau berikan aku bahagia
Kau berikan aku derita..
ha.. ha.. ha…
Aku pulang….
Tanpa dendam….
Ku terima… kekalahanku…
Rebahkan kalbumu
Lepaskan perlahan
Kau akan mengerti
Semua..
Aku berhenti berharap
Dan menunggu datang gelap
Sampai nanti suatu saat
Tak ada cinta kudapat..
:'(
--
Powered by Telkomsel BlackBerry®
Dengan apa yang kau beri
Aku terdampar disini
Tersudut menunggu mati
Aku tak percaya lagi
Akan guna matahari
Yang dulu mampu terangi
Sudut gelap hati ini
Aku berhenti berharap
Dan menunggu datang gelap
Sampe nanti suatu saat
Tak ada cinta kudapat
Kenapa ada derita
Bila bahagia tercipta
Kenapa ada sang hitam
Bila putih menyenangkan
ha… ha…
Reff :
Aku pulang….
Tanpa dendam….
Ku terima… kekalahanku…
Aku pulang…
Tanpa dendam…
Kusalut kan .. kemenanganmu…
wow..
Kau ajarkan aku bahagia
Kau ajarkan aku derita
Kau tunjukkan aku bahagia
Kau tunjukkan aku derita
Kau berikan aku bahagia
Kau berikan aku derita..
ha.. ha.. ha…
Aku pulang….
Tanpa dendam….
Ku terima… kekalahanku…
Rebahkan kalbumu
Lepaskan perlahan
Kau akan mengerti
Semua..
Aku berhenti berharap
Dan menunggu datang gelap
Sampai nanti suatu saat
Tak ada cinta kudapat..
:'(
--
Powered by Telkomsel BlackBerry®
Subscribe to:
Posts (Atom)
